Selasa, 29 Maret 2016

Sepatu


Lizma,

Barangkali jodoh mungkin seperti sepatu. Bukan berarti sekarang aku bekerja di pabrik sepatu, tidak, lizma. Tidak. Tidak seperti itu.

Sekarang aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, jadi aku mohon simpanlah dulu komik detective conanmu itu, dengarkan lah dulu ceritaku. Kalau kau ingin minum dulu minumlah terlebih dahulu.

Sebelumnya mari kita dengarkan dulu sebuah lagu dari Tulus yang berjudul sepatu.

Play.

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berdeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berdeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu


Lizma,  seperti kataku tadi jodoh seperti sepatu. Bayangkan kau membeli sepatu, sepatu tersebut bagus dan kau menginginkannya tapi ukurannya tidak sesuai dengan ukuran kakimu. Apakah kau akan membelinya? Aku rasa tidak. Saat kau paksakan membeli kakimu pasti akan kesakitan.begitu juga sebaliknya sepatu tersebut ukurannya kebesaran, maka kakimu akan merasa tidak nyaman.

Sepatu yang ukurannya sesuai dengan kakimu. tentu yang akan kau pilih, bukan? Tidak kekecilan dan tidak kebesaran.

Nah. Sekarang kau sudah mendapat ukuran sepatu yang  cocok dengan ukuran kakimu. Tapi harga sepatu itu rupanya terlalu mahal dengan kondisi kantongmu. Apakah sepatu tersebut bisa kau dapatkan?

Tentu kau akan kembali memilih sepatu yang sesuai dengan ukuran kakimu dan pas dengan isi kantongmu.

Akhirnya kau mendapatkan sepatu yang benar-benar pas dengan kaki dan kantongmu. Kau pakai sepatu itu dan tampak cantiklah penampilanmu.

Mungkin seperti itulah gambarannya Liz. Jodoh itu seperti sepatu. Kita mendapatknya yang benar-benar kita ingini dan cocok dengan keadaan kita. Ukurannya tidak kekecilan atau kebesaran. Seperti kau mendapatkan sepatu.

Lizma, kita berdua bekerja di pabrik sepatu. Walaupun kerjamu tidak berkaitan langsung dengan pembuatan sepatu tuntu kau tahu bahwa ada dua komponen utama untuk bisa sepatu itu benar-benar menjadi sepatu. Outsole dan Upper. Keduanya mengalami serangkaian proses, maka jadilah sepatu.

Bayangkan outsole dan upper ukurannya berbeda. Outsole ukurannya 7 sementara Upper 8T, apakah akan menjadi sepatu, outsole  dan upper itu? Tentu tidak akan Lizma.

Kadang aku takut liz, apakah kita outsole dan upper dengan ukuran yang sama dan kemudian menjadi sepatu yang benar-benar menjadi sepatu. Jika pun kita menjadi sepasang sepatu aku masih tetap khawatir. Seperti lagunya tulus yang aku putarkan dari smartphoneku barusan : Kita sadar ingin bersama /Tapi tak bisa apa-apa / Terasa lengkap bila kita berdua / Terasa sedih bila kita di rak berdeda / Di dekatmu kotak bagai nirwana / Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya.

Aku berharap tidak begitu Liz, aku selalu berharap aku adalah sepatu yang nyaman kau kenakan sepanjang perjalanmu begitu juga sebaliknya. Itu doa yang kulantunkan dalam sujud-sujudku kepada-Nya, Liz.

Kalaupun tidak . Cinta memang banyak bentuknya / Mungkin tak semua bisa bersatu.

*gambar diambil disini

Sabtu, 11 Juli 2015

Kesabaran [Agus, Rummi, dan Pak Syam]



“Hus! Hus! Hus! Pergi.Pergi!” Kami berteriak sambil melempar batu kerikil ke kambing-kambing yang makan kebun kacang tanah kami. Bahkan teman saya Dedi tidak hanya melempar batu kerikil tapi dia bertriak nama-nama binatang, padahal yang makan tanaman kacang tanah kami cuma satu binatang yaitu kambing. Kebun kacang tanah kami sesaat berubah menjadi kebun binatang.

Ternyata kambing-kambing tidak mempan dengan dilempari kerikil kecil. Maka kamipun mengusir kambing-kambing itu dengan cara lain. Dedi mengumpulkan batu yang agak besar, Oman mencoba mengejar kambing-kambing sambil memukulnya dengan bambu kecil, Ujang melempar batu yang dikumpulkan Dedi, Sinta mulai menangis melihat tanaman kacang tanah kami habis hampir seluruhnya.

Akhirnya usaha kami berhasil. kambing-kambing sudah pergi. Dedi masih memaki-maki kambing dengan nama binatang lain. Ujang dan Oman mulai merapikan tanaman kacang kami yang tersisa sedikit. Aku coba menenangkan Sinta.

Ada sebuah perasaan kesal dalam hatiku. Kebun yang telah lama kami rawat habis seketika. Emosiku memuncak tapi tidak bisa apa-apa. Ingin rasanya memenggal kambing-kambing itu, di buat sate dan kami makan rame-rame. Tapi itu kambing Mang Ahri yang galak. Ah aku hanya bisa ikut-ikutan memaki dalam hati. Kambing kurang ajar.

Kebun kacang tanah ini adalah sebuan proyek kelas kami, kelas IV SD Karanganyar 2. Disela-sela waktu kami belajar matematika, IPA, IPS dan lainya kami belajar berkebun. Berkebun kacang tanah tepatnya. Padi tadi adalah waktu piket kami untuk menyiram tanaman kacang tanah yang baru berusia satu setengah bulan. Selama waktu itu kami menyiapkan tanah, menanam bibit, menyiram setiap pagi, menyiangi, dan kami merawatnya dengan penuh kesabaran. Tapi apa yang terjadi pagi ini. Kebun kami habis, hancur seketika oleh kambing-kambing itu.

Kesabaran. Aku jadi ingat kemarin hari Senin Pak Syam waktu pelajaran Agama menerangkan tentang kesabaran.

Pak Syam menjelaskan kesabaran yang bersifar lahiriah ada tiga.

Pertama adalah kesabaran dalam menunaikan fardhu (kewajiban) dari Allah SWT meskipun dalam berbagai keadaan, seperti syaddah (kesukaran dan susah payah), raahan (hidup senang, gampang), afiat (sehat dan sempurna), dan bala’ (malapetaka).

Kedua adalah kesabaran atas segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. Kesabaran dalam hal ini berarti kesabaran dalam mencegah nafsu yang tidak diridhai Allah SWT.

Dan yang ketiga dimaksud supaya manusia tetap tabah dalam menjalankan kehidupan. Walau berbagai cobaan (dalam arti negatife; sesuatu yang menyakitkan) senantiasa menderanya.

Itu yang kira-kira aku ingat pelajaran dari Pak Syam kemarin. Yang mungkin dengan peristiwa kambing menghancurkan kebun kami adalah bentuk ujian,  dan kami harus sabar menghadapinya. Harus mulai kembali dari awal berkebunnya.

“Kenapa Gus?” tiba-tiba ada yang menepak pundakku.

Ah. Anak ini selalu muncul disaat aku sedang merenung. Selulu tetiba.

“Kebun kita hancur Rummi.” Terangku sambil menunjuk ke kebun.

“Sabar itu ada dua macam, Agus. Sabar atas sesuatu yang tidak disukai dan sabar atas sesuatu yang disukai” Rummi berkata sambil melihat kearah kebun.

Aneh. Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan tentang kesabaran.


Teng! Teng!. Lonceng berbunyi. Kamipun masuk kelas dengan sedikit kesal karena kambing.

*Gambar diambil disini

Jumat, 10 Juli 2015

Pemimpin yang Sholeh


Pada suatu malam sebelum pemilihan ketua OSIS di sekolah. saya bertemu dengan kakek. Biasanya setiap malam kakek selalu ke rumah, untuk menemani kami. Karena ayah saya pulang kerjanya malam. Memang sejak saya masuk sekolah dan ikut ekstrakulikuler saya jarang sekali ada di rumah, pulang selalu malam, hari Minggupun tetap ke sekolah. Makanya saya jarang ketemu kakek.

Tapi malam itu tidak biasanya saya ketemu dengan kakek. Selapas Solat Isya kemudian nonton tv. Kakek saya bertanya kepada saya “gimana sekolahnya?”

“Alhamdulillah lancar Pak.” jawab saya sambil mengambil katimus buatan ibu. Saya memanggil kakek tidak dengan panggilan Kakek, Aki ataupun Mbah. Tapi saya memanggilnya dengan Bapak. Entah kenapa sayapun tidak tahu. Yang jelas sejak dulu seperti itu, saudara-saudara saya yang lain dari bibi atau paman juga memanggilnya bapak. Mungkin karena beliau begitu dekat dengan kita.

Sambil menyeruput kopi beringin yang tidak diberi gula kakek bertanya lagi “sibuk apa sekolahnya?”

“besok kebetulan ada pemilihan ketua OSIS, Obi jadi salah satu calonnya.Pak” saya menerangkan sambil membuka bungkus katimus.

Kakek menyeruput kopinya lagi yang pahit. Menaruhnya di meja. Lalu menepuk pundak saya. Dan Kakek bilang ke saya “Obi. Kalo nanti jadi ketua atau pemimpin jangan sampai menginggalkan Sholat”

sambil mengunyah katimus saya bertanya. “Emangnya kenapa  Pak?”

“Soalnya Sholat itu kewajiban.” Jawab Kakek singkat.

“Apa hubungannya dengan ketua atau pemimpin  pak?” saya masih belum paham.

“Karena kalau seorang pemimpin tidak menjalankan kewajiban atas Tuhannya. Bagaimana bisa dia menjalankan kewajibannya atas Rakyatnya.” Jawab kakek tanpa berkedip, setelah itu kembali menyeruput kopi pahitnya yang terisa setengah gelas.

Saya tidak bertanya lagi kepada kakek. Hanya bisa menelan katimus yang telah saya kuyah halus lalu minum teh manis hangat.

Ayah saya pulang. Ibu membukakan pintu. Kakek pun pamit pulang.

---


Pada akhirnya saya tidak jadi ketua OSIS. Tapi saya paham bahwa pemimpin itu harus sholeh. Itulah tersebab kenapa syarat pertama dalam pemilihan ketua apapun selalu Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Karena kalau seorang pemimpin tidak menjalankan kewajiban atas Tuhannya. Bagaimana bisa dia menjalankan kewajibannya atas Rakyatnya.


* gambar diambil disini 

Jumat, 13 Februari 2015

Seperti Hurang dan Munding

Disuatu siang dalam ruang kelas 3 atau 4 SDN Karanganyar 2. Pak Syam mengajar mata pelajaran PAI, kali ini beliau menerangkan tentang setan. ah serem.

Pak Syam menanyai murid-muridnya "Barudak hoyong terang teu ari bentuk setan teh kos kumaha?"
"Hoyong pak!" murid-murid menjawab, sayapun ikut menjawab bersama murid-murid yang lain.

"Ari setan teh sirahna kos hurang. Awakna kos munding!" Pak Syam menerangkan. kami semua diam, mencoba memahami perkataan Pak syam. 

kemudian Pak Syam melanjutkan "Etamah perumpaan barudak. anu maksudna ari setan teh sirahna kos urang. Awakna kos kuring" tambahlah diam kita para murid sekaligus bingung. apa maksud Pak Syam ini.

"Urang setan atuh pak!" kata Dedi yang duduk paling belakang dengan polosnya. Yuli yang duduk di meja ke dua dari meja Pak Syam pun berpendapat "Piraku uing setan. Pak!"

terjadi sedikit kegaduhan diantara murid-murid yang tidak mau dianggap setan.

"Maksudna barudak. setan teh aya di jero diri urang atawa uing. nyaeta ari setan teh sabentuk sifat anu aya di jero hate urang anu sok ngagoda kanu ka gorengan. nah makana barudak sing hati-hati hate teh kudu sering eling atawa dzikir ka Gusti Alloh supaya urang teu ngagawean kagorengan"

"oh kitu nyak pak." murid-murid paham. saya juga sedikit paham.

"Agus, Kamu tahu gak. manusia itu bisa lebih baik dari malaikat dan lebih jahat dari setan" Kata Rummi, Sahabat saya yang tiba-tiba membisiki dari samping kanan.

* gambar diambil disini

Senin, 07 April 2014

Pantai Pisangan Karawang

Langit begitu birunya, ombak menggulung malu-malu, terpaan angit laut bercampur panas matahari yang menyengat. 

Dengan berkendara sekitar dua jam dari pusat Kota Karawang, kita sampai di Pantai pisangan yang mulai sepi.
Pantai Pisangan. Terletak di utara Karawang, salah satu tempat wisata yang menawarkan kecantikan pantainya walaupun airnya  dan pasirnya berwarna kecoklatan

Setiap tahunnya air laut mengalami peninggian sehingga menjadikan abrasi sampai ke jalan. Sedikit mengurangi keindahannya